Fenomena Korean Wave atau Hallyu kini tidak lagi hanya identik dengan musik K-Pop maupun drama
Korea. Di Indonesia, khususnya di kalangan remaja, gelombang budaya Korea Selatan telah berkembang
menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang turut memengaruhi cara mereka berkomunikasi,
berinteraksi, hingga membangun identitas di ruang digital.
Perkembangan teknologi dan media sosial membuat budaya Korea semakin mudah diakses oleh
masyarakat. Tidak mengherankan jika istilah seperti daebak, aigoo, ottoke, oppa, hingga eonnie kini
sering terdengar dalam percakapan remaja Indonesia, baik secara langsung maupun melalui platform
digital seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan X (Twitter).
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Korean Wave tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga
membawa perubahan dalam pola komunikasi masyarakat, terutama generasi muda yang aktif
menggunakan media sosial.
Korean Wave Semakin Mendunia, Indonesia Jadi Salah Satu Pasar Terbesar
Istilah Hallyu atau Korean Wave merujuk pada penyebaran budaya populer Korea Selatan ke berbagai
negara melalui musik, drama, film, fashion, kuliner, hingga konten digital. Menurut Shim (2006) dalam
Putri dkk. (2019), fenomena ini merupakan bentuk penyebaran budaya Korea yang berhasil diterima oleh
masyarakat global, termasuk Indonesia.
Kesuksesan Korean Wave tidak terlepas dari dukungan pemerintah Korea Selatan. Sejak era Presiden
Kim Dae-jung melalui program Creation of the New Korea, pemerintah secara aktif mendorong industri
kreatif sebagai sarana diplomasi budaya. Strategi tersebut berhasil menjadikan Korea Selatan sebagai
salah satu pusat budaya populer dunia.
Indonesia menjadi salah satu negara dengan perkembangan komunitas penggemar Korea yang sangat
pesat. Antusiasme masyarakat terlihat dari tingginya minat terhadap konser K-Pop, drama Korea, fan
meeting, hingga berbagai festival budaya Korea yang rutin diselenggarakan di berbagai kota.
Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam penyebaran budaya Korea di tingkat
internasional.
Pengaruh Korean Wave terhadap Pola Komunikasi Remaja
Awalnya, budaya Korea hanya dinikmati sebagai hiburan. Namun, seiring waktu, pengaruhnya meluas hingga memengaruhi cara remaja Indonesia berkomunikasi.
Banyak remaja mulai mengadopsi istilah bahasa Korea dalam percakapan sehari-hari, mengikuti gaya
berbicara para idola, hingga menggunakan ekspresi yang populer dalam drama maupun konten K-Pop.
Perubahan ini menunjukkan bahwa media digital tidak lagi hanya menjadi sarana memperoleh informasi,
tetapi juga menjadi ruang terjadinya pertukaran budaya antarnegara.
Melalui media sosial, berbagai unsur budaya Korea menyebar dengan sangat cepat dan diterima oleh
masyarakat tanpa batas wilayah. Akibatnya, budaya populer Korea menjadi bagian dari gaya hidup digital
yang membentuk kebiasaan komunikasi generasi muda.
Media Sosial Mendorong Terbentuknya Komunitas Fandom
Selain memengaruhi cara berkomunikasi, Korean Wave juga melahirkan berbagai komunitas penggemar
atau fandom yang aktif di dunia digital.
Penggemar BTS, misalnya, dikenal sebagai ARMY, sedangkan penggemar BLACKPINK menggunakan
identitas BLINK. Komunitas-komunitas tersebut tidak hanya mengikuti karya idola mereka, tetapi juga
membangun hubungan sosial melalui diskusi di media sosial, menghadiri konser, mengikuti fan meeting,
hingga mengoleksi album, light stick, maupun berbagai merchandise resmi.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa media digital mampu menciptakan komunitas virtual yang memiliki
rasa kebersamaan meskipun para anggotanya berasal dari daerah bahkan negara yang berbeda.
Dalam perspektif komunikasi antarbudaya, kondisi tersebut sejalan dengan konsep imagined community
yang dikemukakan Benedict Anderson. Menurut Anderson (dalam Ghifari & Rahmanto, 2025), seseorang
dapat merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas meskipun tidak pernah bertemu secara langsung
dengan anggota lainnya.
Media Sosial Mempercepat Penyebaran Korean Wave
Pesatnya perkembangan media sosial membuat penyebaran budaya Korea berlangsung jauh lebih cepat
dibandingkan sebelumnya.
Platform seperti TikTok, Instagram, YouTube, hingga X menjadi media utama dalam memperkenalkan
lagu-lagu K-Pop, drama Korea, tren fashion, makanan, hingga bahasa Korea kepada masyarakat luas.
Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui Teori Difusi Inovasi dari Everett M. Rogers. Menurut
Rogers (dalam Mailin dkk., 2022), suatu inovasi akan menyebar melalui saluran komunikasi tertentu
kepada anggota masyarakat dalam jangka waktu tertentu.
Dalam konteks ini, budaya Korea dapat dipandang sebagai inovasi budaya yang diperkenalkan melalui
media digital. Media sosial kemudian menjadi saluran utama yang mempercepat proses penerimaan
budaya tersebut oleh masyarakat Indonesia, khususnya remaja.
Akulturasi Budaya dalam Cara Berkomunikasi
Salah satu dampak paling nyata dari Korean Wave adalah munculnya akulturasi budaya dalam
komunikasi sehari-hari.
Remaja Indonesia kini sering menggunakan kata-kata seperti gomawo, daebak, aigoo, maupun saranghae
di tengah percakapan menggunakan Bahasa Indonesia. Meskipun istilah Korea semakin sering digunakan,
identitas bahasa lokal tetap dipertahankan sehingga tercipta perpaduan budaya yang harmonis.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya proses akulturasi budaya, yaitu pertemuan antara budaya lokal
dengan budaya asing tanpa menghilangkan ciri khas masing-masing (Anandani dkk., 2025).
Cultural Hybridity: Lahirnya Gaya Komunikasi Baru
Fenomena Korean Wave juga dapat dipahami melalui konsep cultural hybridity atau hibrida budaya
yang dikembangkan oleh Homi K. Bhabha.
Menurut Bhabha (1994) dalam Pane (2025), ketika budaya lokal bertemu dengan budaya global, akan
muncul ruang baru yang melahirkan kebiasaan, makna, dan identitas yang berbeda dari budaya asalnya.
Hal ini terlihat ketika remaja Indonesia memadukan Bahasa Indonesia dengan berbagai istilah Korea
dalam komunikasi sehari-hari maupun di media sosial.

Penggunaan kata seperti daebak, ottoke, bahkan shibbal dalam unggahan media sosial menunjukkan
bahwa bahasa Korea telah mengalami proses adaptasi. Istilah-istilah tersebut tidak lagi digunakan sematamata sebagai bentuk meniru budaya Korea, tetapi telah menjadi bagian dari praktik komunikasi digital generasi muda Indonesia.
Korean Wave dan Pembentukan Identitas Remaja
Pengaruh Korean Wave juga terlihat dalam proses pembentukan identitas remaja di era digital.
Menurut Stella Ting-Toomey (2015) dalam Qur’ani dan Ridho (2026), identitas terus dibangun dan
dinegosiasikan melalui interaksi sosial.
Dalam komunitas penggemar Korea, proses tersebut terlihat dari penggunaan istilah bahasa Korea,
keterlibatan dalam fandom tertentu, hingga penggunaan atribut seperti album, light stick, dan merchandise resmi.
Berbagai simbol tersebut bukan hanya menjadi bentuk dukungan kepada idola, tetapi juga menjadi cara
remaja mengekspresikan diri sekaligus menunjukkan bahwa mereka merupakan bagian dari komunitas
tertentu.
Penggunaan istilah seperti gomawo, daebak, atau saranghae akhirnya tidak hanya berfungsi sebagai alat
komunikasi, tetapi juga menjadi simbol identitas kelompok yang memperkuat rasa memiliki di antara
sesama penggemar.
Korean Wave Lebih dari Sekadar Hiburan
Perkembangan Korean Wave menunjukkan bahwa budaya populer Korea Selatan telah membawa
perubahan yang lebih luas dibandingkan sekadar tren hiburan.
Di era digital, budaya Korea turut memengaruhi cara remaja Indonesia berkomunikasi, membangun
hubungan sosial, membentuk komunitas virtual, hingga menegosiasikan identitas mereka.
Melalui media sosial, proses pertukaran budaya berlangsung semakin cepat sehingga lahir berbagai
bentuk komunikasi baru yang memadukan unsur budaya lokal dengan budaya global. Fenomena ini
menjadi bukti bahwa Korean Wave bukan hanya sekadar gelombang hiburan, tetapi juga bagian dari
dinamika komunikasi antarbudaya di era digital.











