JAMBI – Rektor Universitas Jambi, Prof. Dr. Helmi, S.H., M.H. menyoroti pembangunan jalan khusus batu bara yang dikerjakan oleh PT Sinar Anugerah Sukses (SAS) serta rencana pembangunan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS). Ia menilai proyek tersebut harus memiliki kepastian waktu penyelesaian agar tidak terus berlarut-larut.
Menurut Prof. Helmi, pembangunan jalan khusus batu bara memang menjadi kebutuhan penting untuk mendukung aktivitas angkutan batu bara agar tidak lagi menggunakan jalan umum. Namun demikian, proyek tersebut harus disertai target waktu yang jelas sehingga masyarakat mengetahui kapan infrastruktur itu dapat diselesaikan.
“Pembangunan jalan khusus itu memang wajib, tetapi harus ada jangka waktu yang jelas. Jangan sampai tidak diketahui kapan penyelesaiannya,” kata Helmi saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (10/3/2026).
Ia menjelaskan, rencana pembangunan jalan khusus batu bara tersebut sebenarnya sudah ada sejak tahun 2012. Namun hingga kini proyek tersebut belum juga rampung, sehingga diperlukan kepastian dari pihak perusahaan terkait progres penyelesaiannya.
Menurutnya, kejelasan waktu penyelesaian menjadi penting agar masyarakat dan pemerintah dapat memastikan bahwa pembangunan infrastruktur tersebut benar-benar berjalan sesuai rencana.
Di sisi lain, Helmi juga menyoroti proses pembebasan lahan yang masih berlangsung sebagai bagian dari tahapan pembangunan jalan khusus tersebut. Ia menekankan proses tersebut harus dilakukan secara jelas dan transparan agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa setiap pembangunan tentu memiliki potensi dampak positif maupun negatif terhadap masyarakat sekitar. Karena itu, perusahaan diminta memastikan potensi dampak negatif dapat diminimalkan dan ditangani dengan baik.
“Dalam setiap pembangunan pasti ada dampak, baik positif maupun negatif. Yang penting adalah bagaimana dampak negatif itu bisa dinetralisir dan ditangani dengan baik,” ujarnya.
Helmi juga menekankan pentingnya komitmen perusahaan dalam melakukan pemulihan lingkungan apabila terjadi kerusakan akibat aktivitas pembangunan. Menurutnya, langkah pemulihan tersebut harus menjadi bagian dari tanggung jawab perusahaan agar tidak menimbulkan dampak nyata bagi masyarakat sekitar.
Selain itu, ia menyinggung potensi dampak terhadap aktivitas pendidikan di dua perguruan tinggi yang berada di jalur angkutan batu bara menuju stockpile milik PT SAS, yakni Universitas Jambi dan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Menurutnya, jika jalur khusus menuju stockpile tidak segera diselesaikan, maka angkutan batu bara berpotensi tetap menggunakan jalan umum.
” Setiap harinya Unja saja dilalui sekitar 1.500 mahasiswa, Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengganggu aktivitas perkuliahan serta keselamatan mahasiswa.” Ungkapnya
Karena itu, ia berharap pembangunan jalan khusus batu bara tersebut dapat segera diselesaikan sesuai target sehingga aktivitas pengangkutan tidak lagi melalui jalan umum dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat maupun dunia pendidikan. (Sanca)









