Warga: Meskipun Dirazia Illegal Driling Tetap Saja Aktivitas, Percuma Dirazia

Kawasan Ilegal Driling di Kabupaten Batanghari
Loading...

NuansaJambi.Com, BATANGHARI – Bukan cerita lama lagi permasalahan maraknya ilegal driling yang ada di Desa Pompa, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari. Aktivitas penambangan pengeboran minyak terkait konon kabarnya memang menjanji dengan hasil yang cukup mengiurkan.

Tetapi juga dampak bagi lingkungan juga tak bisa dihindari, terutama untuk kesehatan bagi penduduk yang ada disekitar kawasan tersebut. Namun apalah daya , masyarakat hanya mengeluh dan dengan keterbatasan yang tidak punya kekuatan untuk menghentikan aktivitas tersebut.

Seperti masyarakat Desa Batin, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari resah dengan adanya aktivitas praktik pengolahan minyak ilegal di kawasan tersebut.

Sejak tempat tersebut dibuka pada 2018 lalu, sebagian besar warga desa tersebut resah. Pasalnya, polisi berupa bau dari minyak dan asap begitu menyengat.

Tak hanya itu, belasan hektare kebun karet milik warga sekitar pun ikut terkena imbasnya. Daun dari pohon karet mereka ikut mati lantaran terpapar asap dari pemasakan minyak.

Informasi yang diperoleh , ada sekitar tiga tempat pemasakan minyak di lokasi itu. Lokasi pemasakan tersebut terdapat di dalam kebun karet warga tak jauh dari Pasar Desa Batin. Namun, warga setempat mengatakan bahwa ada lebih dari tiga tempat di dalam tersebut.

Sementara, pantauan dilapangan, pada Jumat (15/6) asap hitam kerap kali terlihat dari kawasan tersebut baik pagi maupun sore hari. Tak sedikit juga mobil pick up dan truk keluar-masuk lokasi tersebut. Tak lain untuk menurunkan dan menaikkan minyak mentah hasil pengeboran di kampung Illegal Drilling.

Berhembus kabar bahwa satu di antara tempat pengolahan tersebut adalah miliki oknum polisi inisial ER yang berdinas di Sabhara Polda Jambi. ER juga diketahui pernah berdinas di Polres Batanghari di Provos dan dimutasi ke polda sejak 2018 lalu. ER diduga juga ikut andil dalam pengamanan di tempat itu.

“Yang saya tahu ada oknum aparat yang terlibat di situ,” ujar WI, warga sekitar, Minggu (16/6).

Dijelaskannya bahwa 80 persen warga setempat resah dengan adanya lokasi pengolahan minyak ilegal tersebut. Bagaimana tidak, ratusan kebun karet milik warga banyak yang rusak.

Sisanya yakni warga yang mendapat keuntungan dari tempat tersebut. Bahkan, tak sedikit pula yang ikut bekerja memasak minyak.

“Kondisi daun karet jadi timbul bercak- bercak kecoklatan. Kalau kebun saya ada sekitar 4 hektare yang mengalami kondisi seperti ini. Tidak pernah sama sekali saya cek lagi. Semenjak ada pengolahan minyak itu,” katanya.

Sempat disinggung apakah ada kontribusi dari sang mafia minyak, dia menyebutkan bahwa memang ada bantuan untuk mesjid setempat.

“Setahu saya mereka ngasih ke mesjid tiap bulan sekitar Rp 3 juta,” ujarnya.

Tempat pengolahan minyak itu, disebutkannya sudah beberapa kali dirazia oleh polisi. Namun tetap saja masih beroperasi. “Razia terus, ngolah tetap jalan juga. Percuma saja kan,” ujarnya lagi.

Namun, katanya warga sekitar takut untuk protes dengan keberadaan lokasi pengolahan minyak. Lantaran dibekingi oleh  oknum polisi dan preman.

“Kami dak berani protes. Takut itukan punya aparat. Dan takutnya juga banyak preman dari Palembang. Kami ni apolah masyarakat kecil dak tau hukum,” jelasnya.

Ditanya apakah pernah ada kejadian terhadap lokasi tungku minyak, dia menjelaskan bahwa sempat dua kali tungku minyak tersebut meledak.

“Pernah meledak, tapi tak ada korban jiwa. Cuma luka-luka saja,” bebernya.

Sementara, satu diantara pekerja pengolahan minyak mengatakan bahwa oknum polisi berinisial ER itu memang sudah berbisnis minyak ilegal sejak tahun 2018 lalu.

“Dia sudah lama punya tungku. Sejak dia di Provos Polres Batanghari. Sampai dia pindah ke Polda Jambi, pun masih main minyak,” ujar pria yang tak ingin disebutkan namanya.

Disinggung di mana lokasi tempat pengolahan minyak hasil illegal drilling milik ER, sumber membeberkan tempatnya di desa Batin Kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghari.

“Di desa Batin tu nah. Di jalan ness dekat pasar tu. Dari pasar bisa juga. Cuma mereka buat jalan sendiri sekarang. Pas nian beseberangan dengan tungku minyak yang lama itu. Itu lah sarangnyo nian disitu,” beber sumber.

Sementara Kades Batin, Ahmad Yani mengaku tidak mengetahui siapa saja pemilik tungku di wilayahnya itu. Dia mengaku mengetahui bahwa ada aktivitas tersebut, namun melakukan pembiaran.

“Saya tahu memang ada, tapi tidak tahu itu punya siapa. Tapi yang jelas itu punya warga sekitar sinilah. Mereka juga tak melapor ke saya untuk membuka tempat memasan minyak,” kata Kades.

Kades menjelaskan, baru-baru ini pihaknya telah mengikuti sosialisasi dari Polres Batanghari di kecamatan. Hasilnya, menyampaikan tentang illegal drilling tersebut.

Disinggung Kades seakan tutup mata, Ahmad Yani mengatakan bahwa ia tidak pernah menyuruh ataupun melarang bagi mereka yang mengolah minyak.

“Saya tidak melarang, tidak menyuruh. Kagek dilarang bentrok pulak dengan warga. Mayoritas orang sini dan lahannya punya masyarakat sendiri. Lagian ada royalti ke masjid, langgar dan kuburan,” jelas Kades.

“Saya juga sudah melapor kepasa Babinkamtibmas,” pungkasnya.

Satu lokasi tempat pemasakan minyak ilegal satu lagi juga terpantau di Desa Mekarsari Ness, Kampung 8, Kecamatan Bajubang. Lokasinya hanya beberapa belas meter dari Taman Mugi Rahayu.

Dari informasi yang didapat, ada 14 tungku pemasakan minyak di lokasi itu. Tungku-tungku tersebut diketahui milik warga bernama Nasution dan menggunakan tanah warga sekitar yang bernama Syukur.

Pantauan di lapangan, puluhan mobil baik pikap maupun truk kerap mondar mandir masuk ke lokasi itu. Baik pagi hingga malam hari.Bahkan, baunya begitu menyengat tercium.

Terpisah, Kapolsek Bajubang, Iptu Elfian Yusran Ritonga menanggapi hal ini. Ia mengatakan, Kamis (14/6) lalu pihaknya melakukan sosialisasi terhadap bahaya Illegal Drilling di kantor Camat Bajubang.

“Sosialisasi itu dihadiri seluruh kades di Kecamatan Bajubang. Intinya mereka setuju untuk dihentikan. Meski tanggapan mereka beragam. Tapi ini kan sudah jelas melanggar dan mereka harus taat. Karena di tempat itu kan masyarakat semua,” katanya.

Ritonga menegaskan bahwa tak ada lagi aktivitas pengolahan minyak ilegal di Desa Batin dan Mekarsari Ness, Kecamatan Bajubang.

“Iya, sudah berhenti. Tidak ada lagi aktivitasnya,” tegasnya.

Warga minta kepada aparat penegak hukum dan bersama pemerintah agar benar-benar serius jika memang untuk membrantas aktivitas ilegal driling tersebut, karena masyarakat sudah bosan membaca atau mendengar berita tentang illegal driling.

” Kita ini memang masyarakat biasa. Tapi bukan berarti kami terlalu buta dengan hukum. Kami yakin hukum akan serius mengatasi permasalahan illegal driling tersebut. ” Ungkap salah seorang Muara Bulian yang engan menyebut namanya, Senin (17/6).

(Redaksi Nuansajambi)

Loading...