Di Batanghari Sapi Bali Masih Jadi Favorit Untuk Qurban Idul Adha

Nuansajambi.com, BATANGHARI – Sebentar lagi ummat Muslim kembali merayakan Idul Adha yang disebut hari qurban, yang mana bagi Muslim yang mampu bisa berbagi hewan qurban kepada fakir miskin.

Adapun untuk harga hewan ternak jelang Idul Adha, terutama jenis sapi tentunya mengalami peningkatan.

Dan jenis sapi Bali saat masih menjadi favorit untuk hewan qurban, dengan demikian harga sapi bali jelang Idul Adha meningkat drastis.

Berdasarkan pantauan dipasar ternak Muara Bulian Batanghari pada Jumat (9/8) pagi, tampak sedikit berbeda dari hari-hari biasanya.

Dimana para peternak yang mematok harga sapi per ekor bervariasi, tergantung dari fisik setiap sapi tersebut .

Hal tersebut bukan tanpa sebab, pasalnya meski hari raya Idul Adha masih sekitar dua pekan lagi.

Dikatakan M Ali (50) salah satu pelaku pasar ternak mengatakan, jelang Idul Adha 1439 H pedagang sapi dipasar ternak Muara Bulian memang terjadi peningkatan baik dari segi pembeli, pedagang dan ternak itu sendiri.

” Tidak hanya dari jumlahnya saja, dari harganya juga mengalami peningkatan dari hari biasanya. Terutama untuk jenis sapi Bali yang banyak menjadi incaran pembeli,” Ujarnya.

Pada hari biasa satu ekor sapi dengan berat 55-60 kilo dihargai Rp 10,5 -11,5 juta. Namun harga tersebut terjadi peningkatan terutama jelang hari raya Idul Adha dengan berat yang sama harga lebih tinggi Rp 12 – 14 juta. Harga tersebut juga mengikuti besar dan bobot pada hewan itu sendiri semakin besar semakin tinggi pula.

Sementara itu, Dokter Hewan Poskeswan Pasar ternak Siti Wardiana mengatakan, sejauh ini dari hasil pengecekan tidak ada tanda tanda penyakit yang mengkhawatirkan.

” Jelang qurban kita ada pemeriksaan kesehatan hewan dengan posmortem (sebelum pemotongan) dan posama antimortem (sesudah disembelih),” Ujarnya

Untuk hewan ternak di pasar ternak yang akan di qurbankan secara global sudah sesuai standar termasuk kesehatan hewan sendiri. Sementara untuk jembrana kasusnya berkurang, namun tidak dipungkiri masih ada ditemukan terutama dilapangan (diluar pasar ternak).

” Kalau untuk penyakit jembrana pastinya agak berkurang yah. Namun kita tetap pantau terus,” demikian Siti Wardiana.

(Syahreddy)