Memanah Sunnah Rasul, Iin Aulia Rahman Luangkan Tarik Busur Jelang Buka

Nuansajambi.com — BATANGHARI – Umur manusia begitu pendek, sudah selayaknya manusia mengisi waktu demi waktu dengan segala hal yang bernilai ibadah. Bukan dengan hal-hal yang sia-sia dan tak berguna. Karena setiap gerak-gerik, ucapan dan setiap dengusan nafas selalu ada malaikat yang mencatat amal perbuatannya. Mestinya, ia tidak ingin lembaran amalnya dipenuhi dengan hal-hal yang tak memiliki nilai ibadah.
Tapi, hati manusia memiliki masa-masa semangat, namun pada batas tertentu, pada masa tertentu merasa penat pula. Adalah wajar jika seseorang mencari sesuatu yang bisa menghibur hatinya. Sesuatu yang berupa hal-hal menyenangkan, sekaligus menjadi penawar bagi aktivitas dan beban pikiran yang melelahkan. Hanya saja, rata-rata hiburan yang dipilih oleh manusia itu termasuk hiburan yang sia-sia, ada yang melenakan dari ketaatan, dan ada lagi yang jelas bernilai sebagai kemungkaran. Orang cerdas akan menjatuhkan pilihannya pada aktivitas yang bisa mengumpulkan dua kebutuhan itu, hati bisa terhibur, namun tetap memiliki nilai pahala, tidak dianggap laghwun dan sia-sia. Apa itu?

Nabi SAW bersabda:

“Setiap permainan laghwun yang dilakukan seorang muslim adalah bathil, kecuali ketika dia melemparkan panah dengan busurnya, ketika ia melatih kudanya, dan bercanda dengan istrinya. Ketiga hal ini adalah al-haq.”(HR Tirmidzi, beliau berkata, “hadits hasan shahih.”)

Berlatih memanah adalah olah raga yang menyenangkan, permainan yang mengasyikkan, namun tidak dianggap laghwun dan sia-sia. Banyak sekali motivasi Nabi SAW kepada umatnya untuk belajar memanah. Di antaranya, sabda Nabi saw,

“Sesungguhnya Allah akan memasukkan tiga orang ke dalam jannah karena satu anak panah, orang yang membuatnya dengan tujuan baik, orang yang melemparkannya dan orang yang menyiapkannya. Hendaklah kalian memanah dan berkuda, sedangkan memanah lebih aku sukai daripada berkuda.” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan, hadits hasan shahih)

Ada pahala bagi yang membuat panah, ada ganjaran bagi yang melemparkan panah, dan dijanjikan Jannah orang yang menyiapkan anak panah bagi yang hendak memanah, dan tidak sia-sia pula orang yang berjalan untuk mengambil anak panah dari tempat sasaran ketika latihan. Inilah sisi yang tidak tergantikan dari keutamaan memanah, meskipun dalam banyak hal fungsi panah bisa diganti dengan senjata-senjata modern.

Begitu kuat anjuran Nabi SAW kepada umatnya untuk belajar memanah, hingga banyak keringanan khusus yang berlaku bagi orang yang memanah. Suatu kali Nabi bersama Abu Bakar dan Umar melewati orang-orang yang berlatih memanah. Salah seorang yang hendak melepaskan anak panah berkata, “Demi Allah, ini pasti kena!” Ternyata panahnya meleset. Lalu Abu Bakar berkata, “ia telah melakukan dosa wahai Rasulullah!” Tapi Rasulullah bersabda,

“Sumpahnya orang yang sedang berlatih memanah itu tidak dianggap laghwun, tidak berdosa dan tidak ada kafarahnya.” (HR. Thabrani)

Iin Aulia Rahman lahir Agustus 1994 wanita Muslimah yang tertarik untuk mamanah sejak lulus kuliah di Universitas Jambi (UNJA) berawal dari sering menonton film tiga Srikandi, yang mana pada saat ini wanita yang saat telah memakai Syar’i mulai aktif memanah pada awal Ramadhan 1439 / 2018 tahun. ” Karena memanah salah satu sunnah Rasul yang dianjurkan. Karna ada nilai pahala saat kita bermain.” Kata Iin sapaan akrab Iin Aulia Rahman.

Iin yang tinggal di Kelurahan Kampung Kecamatan Muara Tembesi , setiap sore meluangkan waktunya jelang buka tiba saat buka puasa bermain panah dibelakang rumahnya. Dengan style ala hijab syari Iin Aulia Rahman mulai mengalami peningkatan membidik sasaran dengan anak panahnya ke titik yang telah disediakan. ” Alhamdulillah saya terus berlatih. ” Sebut gadis manja itu.

Tidak seperti gadis lainnya, Iin Aulia Rahman lebih manfaatkan waktu kosong dengan belajar panah. Karena menurutnya, kalau kita gunakan waktu kosong dengan perbuatan sia-sia akan merugi bagi kita sendiri. Dengan panah ini InsyaAllah ada nilai berkah asalkan niatnya karena Allah. ” Saya rasanya inilah olahraga yang ada nilai pahalanya bagi kita .” Ujarnya.

Syahreddy

Tinggalkan Komentar

Silahkan masukan komentar
Masukan nama disini