Harga Minyak Melemah Dipicu Sinyal Kenaikan Produksi OPEC

Harga minyak dunia melemah sekitar US$1 pada perdagangan Kamis (24/5), waktu setempat, dipicu oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan produksi minyak OPEC. (ANTARA FOTO/Aguk Sudarmojo)

Nuansajambi.com — Harga minyak dunia melemah sekitar US$1 pada perdagangan Kamis (24/5), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan dipicu oleh meningkatnya ekspektasi terhadap Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk mengerek produksinya demi mengimbangi berkurangnya pasokan dari Venezuela dan Iran.

Dilansir dari Reuters, Jumat (25/5), harga minyak mentah berjangka Brent merosot US$1,01 atau 1,27 persen menjadi US$78,79 per barel. Penurunan harga juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$1,13 atau 1,57 persen menjadi US$70,71 per barel.

Sumber dari OPEC dan pelaku pasar mengatakan kepada Reuters bahwa OPEC kemungkinan bakal memutuskan untuk kembali mengerek produksi. Hal ini dilakukan demi mengimbangi berkurangnya pasokan dari Venezuela yang tengah mengalami krisis dan Iran yang akan terkena sanksi dari AS.


Berdasarkan pemberitaan kantor berita nonpemerintah Rusia Interfax, Menteri Energi Rusia Alexander Novak menyatakan pelonggaran dari kebijakan pemangkasan produksi dapat dilakukan perlahan jika OPEC dan sekutunya melihat keseimbangan pasar terjadi pada Juni mendatang.

Novak mengatakan kepada Interfax bahwa Rusia dan Arab Saudi ke depan memiliki posisi yang sama terkait kebijakan pemangkasan produksi. Kendati demikian, lanjut Novak, kesepakatan pemangkasan tersebut masih dijalankan untuk saat ini.

Perusahaan minyak Rusia Lukoil menilai kebijakan pemangkasan masih perlu dijalankan tetapi perlu dilakukan perubahan.

“Kami masih meyakini bahwa kenaikan produksi bakal terjadi dan kebijakan tersebut akan diresmikan pada pertemuan OPEC mendatang,” ujar Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch dalam catatannya.

Menurut Jim, untuk sekarang, sedikit sinyal terkait rencana kebijakan untuk mengerek produksi OPEC, khususnya dari Arab Saudi, bakal mendorong penurunan harga sekitar satu hingga dua persen seperti yang terjadi kemarin.

Berdasarkan sumber sekunder OPEC, produksi Venezuela telah jatuh ke kisaran 1,4 juta barel per hari (bph). Hal itu dipicu oleh krisis ekonomi yang terjadi dan BUMN Venezuela PDVSA yang kesulitan membayar utang dan membiayai kegiatan operasional.

Sentimen terhadap ketersediaan pasokan telah mendorong harga minyak ke level tertingginya dalam beberapa tahun terakhir. Pekan lalu, harga Brent sempat menembus US$80 per barel untuk pertama kalinya sejak November 2014.

OPEC dan beberapa negara produsen minyak utama dunia dijadwalkan bertemu di Wina, Austria, bulan depan. Sebelumnya, dalam pertemuan yang sama. OPEC dan sekutunya sepakat untuk memangkas produksi minyak sebesar 1,8 juta bph demi mengatasi banjirnya pasokan di pasar dan mendongkrak harga.

Efeknya, persediaan minyak global telah berkurang bahkan di saat produksi minyak AS meningkat. Sebagai catatan, AS memproduksi 10,3 juta bph pada Februari lalu.

Kontrak berjangka minyak juga merosot seiring aksi ambil untun pelaku pasar sebelum akhir pekan libu Memorial Day di AS.

“Ini seperti mengurangi tekanan di awal libur akhir pekan yang panjang,” ujar Chief Technical Analyst ICAP-TA Walter Zimmerman di Jersey City , New Jersey.

Pada Kamis kemarin, Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana pertemuan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un akibat program nuklir yang dijalankan.

Analis Commerzbank Carsten Fritsch menilai pemberitaan tersebut seharusnya menekan harga minyak. Namun berbagai komentar terkait malah melemahkan kurs dolar AS yang berimbas pada penguatan harga minyak.

Pelemahan dolar AS membuat harga komoditas yang diperdagangkan dengan dolar AS menjadi relatif lebih murah pada pemegang mata uang lain. Sebagai catatan, kemarin, dolar AS merosot lebih dari 0,2 persen melawan sekeranjang mata uang lain.

(cnnindonesia.com)